Selasa, 13 Juli 2010

Keindahan Pulau Kapoposang Pangkep

PULAU Kapoposang merupakan obyek wisata bahari yang cukup terkenal. Selain menikmati keindahan alam, wisatawan juga dapat menyelam, snorkel, dan memancing. Lokasi memancing di sekitar PulauKapoposang adalah salah satu yang terbaik di Indonesia. Datanglah dan nikmati liburan di Pulau Kapoposang.

Lokasi 
Obyek Wisata Sulawesi Selatan
Pulau Kapoposang adalah satu dari ratusan pulau kecil di jajaran spermonde Selat Makassar. Secara administratif,pulau ini terletak di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Jarak dari Kota Makassar sekitar 68 kilometer (42 mil).

Gambaran Umum
Setiap musim libur, 
pulau ini dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Pulau Kapoposang memang sangat indah dan memiliki banyak keistimewaan sebagai obyek wisata bahari. Hijau karena berbagai macam pepohonan.

Aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan di 
Pulau Kapoposang antara lain menyelam, snorkeling, memancing, melihat habitat penyu, dan menyaksikan panorama sunset serta sunrise.

Menyelam dan snorkeling sangat menyenangkan karena terumbu karang di sekitar 
pulau ini cukup sehat dan indah. Lagipula, kondisi perairan yang jernih dan tidak tercemar. Berbagai jenis ikan berwarna-warni seperti menari ceria menyambut wisatawan.

Ada beberapa beberapa tempat menyelam yang masing masing menawarkan keunikan. Shark Point dan Tanjung Point merupakan tempat favorit karena banyak ikan di sana. Ada juga Aquarium point yang menyerupai akuarium dengan wrasse (ikan laut kecil) bermain di antara koral lunak dan karang.

Lebih jauh ke selatan, terdapat atol besar di tengah laut yang disebut Takabakang. Tempat ini merupakan favorit pemancing dan spear fishing. Arus di sana cukup kuat sehingga disukai ikan ikan besar seperti gerombolan tuna, schooling grouper, giant trevally, dan cod.

Habitat penyu adalah keindahan di sisi yang lain. Pantai 
Pulau Kapoposang menjadi tempat hewan langka ini bertelur. Wisatawan dapat menyaksikan tingkah penyu tanpa boleh mengganggu mereka. Hewan ini dilindungi.

Fasilitas
Di 
pulau ini terdapat resor yang dikelola oleh PT Makassar Tirta Wisata. Resor ini dilengkapi restoran dan fasilitas olahraga. Wisatawan juga dapat menyewa kapal pesiar berbobot 20 ton untuk menyeruak lautan mengantarkan ke lokasi penyelaman dan pemancingan favorit.

Akses
Terdapat beberapa jalur menuju 
Pulau Kapoposang, yaitu dari Pelabuhan Paotere dan Dermaga POPSA di Makassar, Dermaga Kalibone di Kabupaten Maros, dan Dermaga Tonasa di Kabupaten Pangkep.

Perjalanan menggunakan kapal tradisional memakan waktu sekitar 6 jam dari Makassar, 7 jam dari Maros, dan 8 jam dari 
Pangkep. Namun jika wisatawan menggunaka sped boat dari Dermaga POPSA Makassar, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu tiga jam saja. (Muhammad Risal)

Minggu, 11 Juli 2010

Nuansa pulau di Pangkep

Hari masih gelap. Beberapa orang nampak bergerak perlahan menyusuri jalan setapak dikegelapan malam itu. Suara ombak sayup-sayup terdengar. Tak lama mereka masuk ke rimbunan pepohonan dan semak-semak. Suara ramai terdengar dari balik rimbunan semak dan pepohonan tersebut. Seseorang nampak sibuk menghunjamkan sebatang linggis berkali-kali ketanah. Seorang lain didekatnya menunggu jeda hunjaman linggis lalu mengambil tanah dan menggalinya. Begitu berulang-ulang. Hingga dari lubang yang dalamnya semeter tersebut mulai muncul air, mereka berhenti sejenak. Tak lama kemudian air yang ada dilubang tersebut berpindah ke sebuah ember. Setelah itu mereka berpindah ke tempat lain yang jaraknya kurang lebi dua meter dari lubang sebelumnya untuk membuat lubang dan mengambil air yang muncul. Setelah air yang tertampung cukup satu atau dua ember, mereka pun bergegas pulang sembari menjinjing air hasil perburuannya malam itu. Demikian aktifitas warga di pulau Sapuka pada masa kemarau. Pada siang hari barulah nampak lubang-lubang bekas penggalian tersebut ternyata berjumlah sangat banyak. Hingga warga menamakannya sumur seribu. Jangan coba-coba berlarian di kebun kalau tidak mau terjerembab karena menginjak lubang-lubang tersebut. Air yang merupakan kebutuhan dasar manusia menjadi barang yang langka di pulau Sapuka terutama di musim kemarau. Kalau musim hujan mereka menampung air hujan untuk minum dan masak serta kadang-kadang mandi. Tetapi lebih sering sering mereka menggunakan air laut yang asin itu untuk mandi sehari-hari.
Pulau Sapuka termasuk dalam wilayah administrasi kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) propinsi Sulawesi Selatan meskipun secara geografis jaraknya dengan pulau Sumbawa lebih dekat. dari Sumbawa pulau ini dapat dicapai dengan menggunakan perahu dengan waktu tempuh kurang lebih 12  jam, sedangkan dari Pangkep antara 24 sampai 36 jam. Bahkan bila sedang musim gelombang tinggi waktu tempuh bisa mencapai 3 hari 3 malam. Bahkan ketika hari sedang cerah, Gunung Tambora yang berada di kepulauan Sumbawa nampak jelas terlihat dari pulau Sapuka.
my picture
Lebih dekatnya jarak ke Sumbawa membuat warga lebih sering berkunjung dan berbelanja kebutuhan sehari-hari ke Sumbawa dari pada Pangkep atau Makassar.
Seperti halnya kebanyakan pulau kecil lainnya, sebagian besar warga Pulau yang merupakan ibukota kecamatan Liukang Tangaya ini beraktifitas sebagai nelayan. Bagang, pancing dan jaring digunakan menangkap berbagai jenis ikan laut.   Bagang utamanya menangkap ikan mairo dan cumi-cumi, pancing untuk memperoleh ikan sunu, kerapu, katambak, masidu dan lain-lainnya. Sedangkan jaring untuk mendapatkan ikan tendro. ikan tendro yang bermoncong panjang ini  mereka jual ke pedagang ikan di Lombok. salah seorang nelayan mengungkapkan bahwa orang Lombok dan Bima sangat doyan dengan ikan tendro. Hampir setiap hari ada pedagang yang datang ke pulau untuk membeli ikan tendro hasil tangkapan warga pulau Sapuka.  sangat jarang ikan tendro dijual ke tempat lain seperti Makassar atau Pangkep karena menurut pengalamannya ikan tersebut tak akan laku dijual di sana.   entahlah mengapa..
Ikan yang dijual dalam keadaan hidup seperti Sunu biasanya dijual ke pengumpul yang juga merangkap sebagai Punggawa (punggawa adalah istilah dari bahasa Bugis yang artinya kurang lebih adalah Boss. istilah ini sering digunakan dalam dunia sosial kenelayanan yang menunjukkan seseorang yang memiliki kemampuan modal kuat untuk mengadakan sarana menangkap ikan seperti alat tangkap dan bekal. Peralatan tersebut secara teknis dioperasikan oleh nelayan yang disebut ‘sawi” yang kurang lebih berarti ANAK BUAH. biasanya antara punggawa dan sawi terdapat kesepakatan tidak tertulis yakni sawi harus menjual hasil tangkapannya kepada punggawanya. Sangat tidak dibenarkan seorang sawi menjual kepada pembeli yang bukan punggawanya. Ia akan dicap sebagai pembelot dan akibatnya peralatan menangkap ikan akan ditarik oleh punggawa).
Ikan lainnya seperti katambak, sulir dan kerapu lebih banyak dikeringkan terlebih dahulu sebelum dijual. Hampir setiap hari di pelabuhan Paotere Makassar kapal pembawa ikan kering dari pulau Sapuka berlabuh. seorang pedagang mengakui bahwa mereka kadang-kadang harus tinggal dikapal selama tujuh hingga sepuluh hari karena menunggui ikan keringnya habis terjual. kesempatan menggu itulah yang mereka manfaatkan untuk menikmati Kota Makassar. “saya paling suka kalau malam hari. banyak lampu kelihatan terang. Kalau di pulauki lampu cuma dari jam 6 sore sampe jam 10 malam”.
Apapun itu, kesulitan air bersih hingga listrik yang tersedia cuma dari jam 6 sore hingga jam 10 malam, tetapi roda kehidupan masih terus di pulau Sapuka..(Muhammad Idhan)

Goa-goa Prasejarah Pangkep

Pesan dari Zaman Prasejarah (Bagian 2)” menceritakan perjalanan lanjutan Tim Arkeologi Unhas Makassar yang menyusurii goa-goa di sepanjang Kabupaten Maros hingga Pangkep, Sulsel. Di bagian kedua ini, mereka memasuki Goa Sakapao dan Goa Caming Kana. Selain menemukan sejumlah lukisan di dinding goa, mereka juga menemukan sampah dapur. Mereka percaya, lukisan dan sampah dapur itu merupakan pesan dari zaman prasejarah. Sisi lain, mereka juga menemukan kerusakan pada goad an bibit-bibit penghancuran oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.


TIM PRODUKSI:"PESAN DARI ZAMAN PRASEJARAH (BAGIAN 2)";Syaiful Halim (Sutradara/Penulis Naskah); Budi Sukmadianto (Pengarah Fotografi/Kamerawan); Dani Setiawan (Penata Suara); Agus Salim Harahap (Penyunting Gambar); Billy Soemawisastra (Narator); M. Nur Ridwan & Budi Utomo (Penata Grafis); Ari Widagdo (Penata Musik); Yadi Mulyadi, Asfriyanto, dan Suparyono (Periset); Yadi Muliadi, M. Iqbal AM, Iswadi A Makkaraka, Andi Jusdi, Basran Burhan, Haerani Umar, dan Marissa (Talent); Tamrin Soppeng & M. Soleh (Pendukung Produksi). Diproduksi di Maros dan Pangkep, Sulsel, pada 22-28 Februari 2006. Ditayangkan di Program POTRET SCTV 11 Maret 2006. SEPANJANG KABUPATEN MAROS HINGGA KABUPATEN PANKEJENE DAN KEPULAUAN/ SULAWESI SELATAN/ MEMBENTANG PERBUKITAN KARTS/ DENGAN KEKAYAAN MARMER DAN BATU-BATU KAPUR DI DALAMNYA// LEBIH DARI ITU/ DI KAWASAN PERBUKITAN INI PUN MENYIMPAN RATUSAN GOA// KEUNIKAN GOA-GOA DI KAWASAN INI ADALAH/ ADANYA PESAN-PESAN DARI ZAMAN PRASEJARAH// KARENA ITU/ GOA-GOA DI KAWASAN INI SENANTIASA MENJADI LOKASI PENELITIAN NAN MENGGIURKAN//

NARASI ORISINAL:TIM ARKELOGI UNIVERSITAS HASANUDDIN/ MAKASSAR/ TERMASUK KELOMPOK PENELITI YANG SERING MENGUNJUNGI GOA-GOA DI WILAYAH MAROS SERTA PANGKEJENE DAN KEPULAUAN// MEREKA BUKAN HANYA TERINSPIRASI PERJALANAN PAUL SARASIN DAN FRITZ SARASIN ASAL SWISS/ YANG PERTAMA KALI MELAKUKAN PENELITIAN DI WILAYAH INI PADA TAHUN 1902// NAMUN/ MEREKA PERCAYA/ GOA-GOA PRASEJARAH DI WILAYAH INI MENYIMPAN PESAN/ YANG SANGAT MENARIK UNTUK DIUNGKAP MAKNANYA//TIDAK MUDAH MENJANGKAU GOA DI KAWASAN RAMANG-RAMANG/ KABUPATEN MAROS INI// SETELAH MENYUSURI SUNGAI RAMANG-RAMANG SELAMA SEKITAR SATU JAM/ MEREKA HARUS MEMASUKI AREAL PERSAWAN DAN RAWA-RAWA SEPANJANG SEKITAR DUA KILOMETER//DI MULUT GOA RAMANG-RAMANG/ TIM DIBADI DALAM TIGA KELOMPOK/ YAKNI PENELITI ASTRONOMI/ PENELITI ARKEOLOGI/ DAN PENELITI GOA// PENELITIAN ASTRONOMI BERTUJUAN MENDAPAT POSISI GOA MENURUT GARIS BUJUR DAN GARIS LINTANG/ KETINGGIAN DARI PERMUKAAN LAUT/ DAN DATA GEOGRAFIS LAINNYA// SEDANGKAN PENELITIAN ARKEOLOGI/ MENCOBA MENDAPATKAN FAKTA PRASEJARAH SEMACAM GAMBAR ATAU SAMPAH DAPUR// HASIL PENELTIAN ITU DIRANGKUP UNTUK MENDAPATKAN DATA GOA/ DAN MENAFSIRKAN KEBERADAAN DAN FUNGSI SEBUAH GOA//USAI MELAKUKAN PENELITIAN DI GOA RAMANG-RAMANG/ PARA PENELITI MENDIRIKAN TENDA DI ATAS PERBUKITAN BATU CADAS// LOKASI INI DIPILIH/ KARENA SATU-SATUNYA TANAH DATAR YANG DEKAT DENGAN AIR// PENDIRIAN TENDA BUKAN HANYA DIMAKSUDKAN UNTUK BERISTIRAHAT DI MALAM HARI// TAPI/ MEREKA JUGA MENJADIKANNYA SEBAGAI TEMPAT DISKUSI DAN MENYUSUN LAPORAN PENELITIAN//DI HARI KEDUA/ TIM ARKELOGI INI MELANJUTKAN PERJALANAN MENUJU GOASAKAPAO DI DESA BELAE/ KABUPATEN MAROS// JARAK ANTARA GOA RAMANG-RAMANG HINGGA GOA SAKAPAO SEKITAR 60 KILOMETER// DAN/ UNTUK MENCAPAI LOKASI PENELITIAN/ KEMBALI TIM HARUS MENYUSURI AREAL PERSAWAHAN DAN RAWA-RAWA//DI TEMPAT INI/ TIM JUGA MENGUKUR POSISI ASTRONOMI DAN MENELITI POTENSI ARKELOGI DAN GOA// SEPERTI JUGA GOA RAMANG-RAMANG/ DI GOA INI JUGA TERDAPAT GAMBAR-GAMBAR CETAKAN TANGAN DI DINDING GOA// BERBEDA DENGAN GOA RAMANG-RAMANG/ GAMBAR YANG TERCETAK TERLIHAT LEBIH NORMAL// SALAH SEORANG PENELITI SEMPAT MEREPRO GAMBAR DARI ZAMAN PRASEJARAH INI//
MEREKA PERCAYA/ ADA PESAN TERSEMBUNYI DARI GAMBAR-GAMBAR INI// DAN DIBUTUHKAN KETERAMPILAN KHUSUS/ UNTUK MENAFSIRKAN MAKNANYA// KESIMPULAN PALING DASAR/ GOA INI PERNAH DIJADIKAN LOKASI RITUAL OLEH MANUSIA-MANUSIA DI ZAMAN PRASEJARAH//
DI BAGIAN DALAM GOA/ TIM ARKELOGI MENCOBA MENYUSURI TEROWONGAN SEJAUH SEKITAR 20 METER// KALI INI/ KREATIVITAS YANG MAHA PENCIPTA BENAR-BENAR TERBUKTI/ MELALUI KEINDAHAN STALAGNIT DAN STALAKTIT GOA SAKAPAO//
GOA CAMMING KANA MASIH BERADA DI DESA BELAE/ KABUPATEN MARROS// MESKI HARUS MELEWATI AREAL PERSWAHAN DAN RAWA-RAWA BERAIR/ LOKASI GOA RELATIF MUDAH DIJANGKAU// POSISI GOA CAMMING KANA SEKITAR 10 KILOMETER DARI GOA SAKAPAO// GOA CAMMING KANA MEMILIKI KEUNIKAN TERSENDIRI DIBANDINGKAN GOA SAKAPAO ATAU GOA RAMANG-RAMANG// TERUTAMA/ BENTUK GOA YANG VERTIKAL// SEHINGGA/ TIM HARUS MEMANJAT KE BAGIAN ATAS/ UNTUK MENDAPATKAN DATA ASTRONOMI/ POTENSI ARKEOLOGI/ DAN FAKTA GOA//DISKUSI DAN PELAPORAN HASIL PENELITIAN MEMBERIKAN BANYAK FAKTA BARU MENYANGKUT GOA-GOA PRASEJARAH DI KABUPATEN MAROS DAN KABUPATEN PANGKEJENE DAN KEPULAUAN// TIGA GOA/ DENGAN PESAN-PESAN PRASEJARAHNYA YANG DITUNJUKKAN MELALUI GAMBAR DAN SAMPAH DAPUR/ MEMBERI BUKTI/ ADA MANUSIA PRASEJARAH YANG BERMUKIM DI DALAMNYA// SEJUMLAH PAKAR ARKEOLOGI MENYEBUTKAN/ MEREKA BERADA DI MASA BERBURU DAN MENGUMPUL MAKANAN TINGKAT LANJUT/ ATAU TRADISI EPI-PALEOLITIK/ PADA SEKITAR 15.000 SEBELUM MASEHI// SEDANGKAN MAKNA LEBIH DALAM DARI ROCK ART ATAU GAMBAR-GAMBAR DI DINDING GOA/ MASIH MERUPAKAN PEKERJAAN RUMAH BESAR UNTUK DIUNGKAP// MESKI DEMIKIAN/ PARA PENELITI INI TETAP MENDAPAT KESIMPULAN PENTING ATAS PESAN-PESAN LAIN/ DI LUAR GAMBAR-GAMBAR ZAMAN PRASEJARAH ITU//....(sumber : Syaiful H)

Dari Prasejarah Kampung Pangkep

Negara Indonesia kaya akan sumberdaya alam  maupun sumberdaya budaya yang bisa digunakan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Kekayaan sumber daya budaya dapat berupa fisik maupun non fisik. Salah satu kekayaan tersebut adalah sumberdaya arkeologi yang tersebar di seluruh Indonesia.Salah satu kawasan yang  banyak mengandung sumberdaya arkeologi adalah kawasan pegunungan kapur  Maros dan  Pangkep di Propinsi Sulawesi Selatan. Di kawasan pegunungan kapur (karst) terdapat gua-gua yang pada masa prasejarah dihuni oleh manusia. Terpilih gua sebagai tempat bermukim manusia tidak terlepas dari tersedianya sumberdaya alam yang terdapat pada lingkungan sekitar gua. Selain sebagai tempat tinggal, dinding-dinding gua digunakan sebagai media untuk mengekspresikan pengalaman, perjuangan dan harapan hidup manusia dalam bentuk lukisan gua (Stern, 1973 dalam Linda, 2005). Lukisan gua di Indonesia diketahui berkembang pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut (Kosasih, 1983). Menurut H.R. Van Hekeren (1972 dalam Permana, 2008) kemungkinan besar kehidupan gua di Sulawesi Selatan berlangsung sejak pertengahan atau penghujung kala Pleiostosen akhir yakni sekitar 50.000 hingga 30.000 tahun sebelum Masehi.          
Setelah ribuan tahun ditinggalkan, kini lukisan dinding gua di Kabupaten Maros dan Pangkep telah banyak mengalami kerusakan karena proses pelapukan dan pengelupasan kulit batuan terus berlanjut.  Lukisan pada dinding gua prasejarah  umumnya mengalami kerusakan yang sama, selain terjadi pengelupasan juga terjadi retakan mikro dan makro.  Di samping itu di beberapa tempat warna lukisan memulai memudar terutama lukisan yang terletak di bagian dinding depan mulut gua.  Demikian pula proses inkrastasi (pengendapan kapur) terus berlanjut, hampir semua gua terjadi proses pengendapan kapur pada kulit batuan gua, coretan spidol dan goresan benda tajam juga banyak dijumpai (Said, dkk, 2007).          
Meskipun banyak yang telah mengalami kerusakan, keberadaan lukisan prasejarah yang mampu bertahan selama puluhan ribu tahun tersebut sangat menggugah untuk dikaji. Banyak pertanyaan yang timbul mengenai lukisan tersebut, mulai dari bahan yang digunakan, metode peramuan dan aplikasinya, hingga interaksinya dengan dinding gua dan lingkungan sehingga mampu bertahan dalam kurun waktu yang sangat lama.           
Pengetahuan mengenai bahan lukisan tersebut sangat penting untuk dikaji secara mendalam sebagai bagian dari usaha konservasi. Berbagai manfaat dapat diambil apabila pertanyaan mengenai bahan yang digunakan pada lukisan tersebut dapat terungkap. Manfaat tersebut antara lain dapat diketahui interaksi bahan tersebut dengan dinding dan lingkungan, sehingga dapat digunakan untuk merumuskan metode konservasinya. Manfaat yang lain adalah dapat dijadikan acuan dalam melakukan restorasi lukisan yang hilang/ mengelupas jika diperlukan. Dan yang lebih penting adalah dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan untuk mengungkap pola kehidupan masa lalu dan kearifan budayanya. 
A. Tinjauan Pustaka (Penelitian Terdahulu yang Relevan)           
Sulitnya mengungkap bahan yang digunakan pada lukisan menyebabkan hingga saat ini belum ada statemen yang pasti mengenai jenis bahan lukisan maupun cara aplikasinya. Beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan rujukan adalah laporan survey, serta laporan studi konservasi dan observasi yang dilakukan oleh Samidi (1985 dan 1986). Pada laporan tersebut dilakukan survey kerusakan dan beberapa tindakan konservasi.           
Tindakan konservasi yang dilakukan meliputi konsolidasi dengan beberapa bahan dan restorasi lukisan. Restorasi dilakukan pada lukisan yang mengelupas dengan bahan oker hematit yang dicampur dengan bahan pengikat. Bahan pengikat yang diujicoba adalah Paraloid B-72 dan EPIS yang merupakan bahan kimia sintetis dan Tuak sebagai bahan alami. Meskipun tidak secara langsung menyebut bahan lukisan terbuat dari hematit, Samidi telah menggunakan hematit sebagai pigmen pengganti. Dengan kata lain Samidi telah menduga bahwa bahan pewarna lukisan yang digunakan adalah hematit. Pemilihan hematit sebagai bahan pewarna oleh Samidi didasarkan pada masyarakat tradisional Toraja yang menggunakan hematit untuk membuat pewarna pada hiasan rumah adat.   Beberapa peneliti terdahulu juga telah menyebutkan dugaan warna merah berasal dari hematit. Dugaan ini didasarkan  atas temuan hematit yang terdapat di Leang Burung 2 dan Pattae. Temuan hematit di Leang Burung 2 diperoleh pada penggalian yang dilakukan oleh I.C. Glover pada tahun 1973. Hematit ini ditemukan pada berbagai lapisan bersama-sama dengan temuan batu inti dan alat serut. Hematit yang ditemukan berupa pecahan seperti batu merah dan tampak adanya alur-alur yang diduga sebagai akibat dari usaha manusia untuk memanfaatkannya (Glover, 1981 dalam Restiyadi, 2007). Hematit di Leang Pattae ditemukan oleh Van Hekeren tahun 1950. Selain itu ditemukan pula alat-alat batu berupa mikrolit, serpih, mata panah dan kapak genggam Sumatera. Kapak genggam Sumatera ini diduga pernah digunakan sebagai bahan pukul atau batu giling karena pada beberapa bagiannya tempak bekas-bekas warna merah (Heekeren, 1965 dalam Restiyadi, 2007). Hematit bukanlah perwarna instant yang siap dipakai, akan tetapi diperlukan sebuah proses pengolahan terlebih dahulu yaitu proses dari hematit padat ke pewarna cair. Melalui  temuan hematit dan adanya tanda-tanda pengerjaan yang ditemukan oleh Glover dan Hekeren, dapat diduga adanya persiapan-persiapan (pra produksi) sebelum produksi lukisan gua (Restiyadi, 2007).Penelitian lain yang pernah dilakukan adalah penelitian oleh Sadirin (1998). Pada penelitian tersebut dicoba usaha untuk membuat dugaan campuran yang digunakan dengan bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan (sirih, gambir, dan pinang). Namun sayang laporan penelitian tersebut tidak tersimpan di BP3 Makassar, sehingga sulit untuk digunakan sebagai dasar pijakan teoritis. Menurut keterangan pegawai BP3 yang terlibat, hasil penelitian yang menggunakan bahan-bahan alami tumbuh-tumbuhan tersebut pada awalnya cukup baik, namun tidak dapat bertahan lama. Dalam waktu beberapa bulan sudah memudar.
B. Kerangka Berfikir dan Observasi LapanganUntuk membuat dugaan dan analisis lebih lanjut mengenai bahan lukisan beberapa dasar pemikiran yang digunakan adalah sebagai berikut :
  1. Bahan yang digunakan merupakan material anorganik. Bahan organik merupakan bahan yang relatif mudah terurai, sehingga bahan anorganik lebih mungkin untuk dapat bertahan hingga puluhan ribu tahun. Hal ini telah dibuktikan oleh Sadirin (1998) yang menggunakan bahan organik ternyata hanya mampu bertahan beberapa bulan.
  2. Tanpa menafikkan adanya kearifan budaya, tingkat ilmu pengetahuan manusia prasejarah belumlah begitu tinggi, sehingga campuran yang digunakan bersifat relatif sederhana. Ramuan yang digunakan diduga tidak sangat kompleks dan rumit. 
  3. Sumber bahan yang digunakan berasal dari wilayah yang tidak terlalu jauh dari situs.
  4. Kelekatan lukisan pada dinding gua yang kuat mengindikasikan adanya interaksi kimia yang efektif. Pengelupasan yang terjadi umumnya merupakan pengelupasan lapisan dinding, bukan lapisan lukisan yang terkelupas. 
Oleh karena itu tim penulis berupaya membuat hipotesis mengenai bahan lukisan dan teknologi campurannya. Untuk mendukung hipotesis maka diupayakan untuk mencari fakta-fakta dan bukti di lapangan. Berdasarkan survey yang dilakukan diperoleh hal-hal sebagai berikut :
  1. Ditemukan mineral merah (hematit ?) disekitar situs. Berdasarkan observasi juga ditemukan bahwa mineral merah tersebut merupakan mineral yang menyusun struktur karst. Namun mineral tersebut bersifat lunak sehingga mudah terlarut (tergerus) oleh air. Keberadaan mineral tersebut saat ini tidak lagi melimpah karena sifatnya yang rapuh. Namun jejaknya masih dapat dilihat dengan mudah, yaitu berupa pecahan-pecahan pada sampah dapur, dijumpai sebagai bongkahan di tanah, dan lapisan merah pada permukaan dinding karst yang dilewati air. Banyak dijumpai dinding karst yang berwarna merah secara alami, diduga ada mineral merah diatasnya yang tergerus oleh air kemudian mengendap pada permukaan. Penelusuran di sungai juga menunjukkan bahwa sungai banyak mengandung endapan mineral merah, termasuk pasirnya yang berwarna kemerahan akibat bercampur dengan mineral merah yang halus. Survey di Sumpang bita menemukan banyak bongkahan mineral merah di wilayah kaki karst dari penggalian tanah oleh penduduk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mineral merah (hematit ?) merupakan mineral yang kelimpahannya tinggi di pegunungan karst Maros-Pangkep terutama pada masa lampau.
  1. Observasi vegetasi di sekitar situs menemukan tumbuhan khas yang hampir selalu ada di sekitar situs adalah pohon asam dan pohon lontar (Talla; makassar, Siwalan; Jawa). Meskipun belum tentu berhubungan dengan lukisan, namun vegetasi ini juga perlu mendapat perhatian pada saat mempertimbangkan jenis campurannya.  
  1. Observasi terhadap hasil pengujian dari penelitian Samidi (1986) yang mengejutkan adalah dapat bertahannya campuran hematit dengan air tuak. Sampai observasi terakhir oleh tim penulis lapisan tersebut masih bertahan dan cukup kuat, meskipun pada awalnya diragukan oleh peneliti sendiri. Fakta ini perlu diungkap secara ilmiah sehingga dapat mendukung hipotesis-hipotesis selanjutnya. 
 Dasar teori yang digunakan untuk berpijak adalah teori mengenai pembentukan stalaktit pada gua (Reaksi karstifikasi). Reaksi kimia yang terjadi pada pembentukan stalaktit tersebut adalah sebagai berikut ;
-          Reaksi air dengan CO2 diudara,  H2O + CO2 —->  H2CO3-          Asam karbonat (H2CO3) bereaksi dengan kapur,
            H2CO+ CaCO3  —–>  Ca2+  +  2 HCO3-  (larut)
-          Reaksi menghasilkan seyawa bikarbonat (HCO3-) yang larut
-          Senyawa bikarbonat kembali menjadi karbonat yang keras, sehingga
           terbentuk stalaktit, Ca2+ + 2 HCO3 —–> CaCO3 (keras) + H2O + CO2
Secara ringkas dapat dituliskan :
Karbonat (keras) + asam —–>  Bikarbonat (larut) —–>  Terurai kembali menjadi Karbonat (keras)
C. Hipotesis dan Pengujiannya          
Berdasarkan kerangka berfikir dan hasil observasi di atas maka disusun beberapa hipotesis yang akan diuji lebih lanjut melalui serangkaian analisis dan percobaan. Adapun hipotesis yang dikemukakan adalah :
  1. Bahan pewarna (pigmen) yang digunakan berasal dari mineral merah (hematit ?) yang banyak terdapat di sekitar situs.
  1. Bahan pengikat yang digunakan agar dapat melekat dengan kuat pada dinding karst adalah bahan alami yang bersifat asam (sedikit asam). Bahan pengikat tersebut tidak bersifat seperti perekat tetapi menggunakan prinsip pembentukan stalaktit di atas. Yaitu bahan asam bereaksi dengan dinding karst menyebabkan permukaan karst yang berkontak dengan larutan pewarna menjadi larut sementara, kemudian mengeras kembali dan bahan warna terikat (berinteraksi secara kimia).
  1. Bahan alami bersifat asam dapat berupa berbagai ekstrak tumbuhan, pada umumnya ekstrak tumbuhan memang bersifat asam. Tim penulis memilih jenis vegetasi endemik yang hampir selalu dijumpai di setiap situs yaitu buah asam dan air buah lontar. Sebagai perbandingan diuji juga larutan asam cuka, serta ekatrak gambir dan pinang.
Hipotesis tersebut masih bersifat dugaan sehingga perlu dilakukan pengujian untuk membuktikan kebenarannya. Pengujian yang dilakukan meliputi serangkaian analisis dan percobaan sebagai berikut :
  1. Analisis terhadap bahan lukisan dengan analisis elemental kimia dan analisis intrumental modern. Instrumental yang direncanakan adalah spektroskopi XRD untuk analisis mineral, dan FTIR untuk analisis gugus fungsi. Untuk mempermudah interpretasi dilakukan analisis terhadap sampel lukisan, mineral merah, dan batuan dinding gua. Analisis ini sekaligus menguji jenis mineral merah tesebut apakah benar hematit atau bukan.
  1. Percobaan pembuatan campuran bahan lukisan dengan bahan mineral merah dan beberapa bahan pencampur. Bahan pencampur yang diuji adalah larutan asam 10 %, Air buah lontar segar, Air buah lontar yang telah didiamkan satu hari (telah asam), Ekstrak daun sirih, Ekstrak buah pinang, Ekstrak daun sirih + buah pinang, Larutan asam cuka, dan Akuadest sebagai kontrol.
  1. Bahan percobaan dioleskan pada permukaan batu karst percobaan yang diambil dari sekitar situs, dan diuji ketahanannya.
D. Penutup                 
Setelah diketahui bahan pewarna yang digunakan melalui pengujian hipotesis diatas, maka dapat dilakukan tahap-tahap selanjutnya. Tindakan konservasi yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian adalah memperlambat pelapukan dan pengembalian dengan rekonstruksi. Konsep konservasi yang dikemukakan oleh penulis dalam melakukan tindakan adalah sebagai berikut :
  1. Menggunakan bahan-bahan alami. Bahan asli pembuatan benda-benda bersejarah merupakan bahan-bahan alami sehingga pada rekonstruksinya juga diusahakan menggunakan bahan-bahan alami. Bahan alami juga diharapkan bersifat lebih ramah terhadap objek dan lingkungannya.
  1. Sedikit mungkin menggunakan bahan kimia sintetis.
  1. Diupayakan bersifat reversible, artinya rekonstruksi yang dilakukan tidak bersifat tetap dan merusak. Sehingga pada saat ditemukan masalah atau kesalahan aplikasi, masih dapat dikembalikan pada kondisi sebelum rekonstruksi.
  1. Perlu memperhatikan teknik aplikasi yang sesuai dengan objek aslinya, sehingga hasilnya selaras dan bernilai estetika tinggi. Sebagai contoh pembuatan garis-garis lukisan pada gambar badan babi rusa agar disesuaikan dengan pola garis lukisan aslinya. Dalam hal ini perlu melibatkan ahli (kurator)
            Teknik rekonstruksi bagian yang mengelupas adalah dengan mengembalikan pengelupasan terlebih dahulu, tidak langsung dilukis pada bagian yang sudah mengelupas. Sehingga perlu dikembangkan bahan penutup pegelupasan yang bersifat alami dan reversibel. Selanjutnya pewarna untuk rekonstruksi digambar di atas permukaan lapisan tersebut. Pada studi ini dikembangkan bahan pelapis dari serbuk karst yang dicampur dengan bahan pengikat. Bahan pengikat yang dicoba adalah gamping (kapur bangunan) dan larutan cuka. Dengan cara ini diharapkan diperoleh metode konservasi efektif yang menggunakan bahan tradisional dan bersifat reversibel. *  
————————————————————
Nahar Cahyandaru, S.Si – Yudi Suhartono, M.Hum – Riyanto P Lambang (Balai Konservasi Peninggalan Borobudur) - Dr. Nuryono(Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Gadjah Mada)
Daftar PustakaKosasih, S.A.    1983.  “Lukisan Gua di Indonesia sebagai Data Sumber Penelitian arkeologi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Jakarta, hal 158-175,
Linda, 2005.  Tata Letak Lukisan Dinding Gua di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya UGM
Restiyadi, Andri 2007.  “Diskursus Cap Tangan Negatif Interpretasi Terhadap Makna dan Latar Belakang Penggambarannya di Kabupaten Maros dan Pangkep Sulawesi Selatan” dalam Artefak Edisi XXVIII. Yogyakarta : Hima UGM
Samidi, 1985. Laporan Hasil Survey Konservasi Lukisan Gua Sumpang Bita dan Pelaksanaan Konservasi Lukisan Gua Pettae Kerre, Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan
Samidi, 1986, Laporan Konservasi Lukisan Perahu/ Sampan si Gua Sumpang Bita (Tahap Awal) dan Konservasi Lukisan Babi Rusa di Gua Pettae Kerre (Penyelesaian), Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan